Fwd: Indikator Anak Berbakat
From: Dwiriana Setiati (dwiriana.setiatigmail.com)
Date: Tue, 12 Aug 2008 01:21:30 -0700 (PDT)
---------- Forwarded message ----------
From: Dwiriana Setiati <anads_1704 [at] yahoo.com>
Date: 2008/8/12
Subject: Fwd: Indikator Anak Berbakat
To: anads_1704 [at] yahoo.com, dwiriana.setiati [at] gmail.com


--- In daffodilmuslimah [at] yahoogroups.com, Bki Daffodil
<bki.daffodil [at] ...> wrote:

Indikator Anak Berbakat





Orang tua mana yang tak ingin punya anak berbakat? Bagaimana, sih,
cara mendeteksi bakat si cilik? "Anak sulung saya luar biasa aktif.
Dia juga pintar dan suka sekali bertanya. Kadang, pertanyaannya bikin
kami kewalahan. Teman-teman saya bilang, si sulung termasuk anak
berbakat," tutur Andika, ayah dua anak tentang putra sulungnya yang
berusia 4 tahun. Banyak orang dengan mudah menyimpulkan si A, si B,
atau si C anak berbakat. Entah karena ia selalu jadi juara kelas,
juara lomba, dan sebagainya. Bahkan, anak yang belum pernah
menunjukkan prestasinya di bidang tertentu pun, sering dikatakan anak
berbakat. Misalnya, suaranya merdu saat menyanyi. Sebenarnya, seperti
apa sih, yang dimaksud anak berbakat?


Beda Pintar & Berbakat

Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar,
anak berbakat berbeda dengan anak pintar. "Bakat berarti punya
potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari
sesuatu," jelasnya. Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang
tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. "Kalau anak tak
berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun,
ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan
berkembang." "Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tak
menunjang, ia pun tak akan berkembang." Soal bakat musik tadi,
misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan
terpendam," jelas guru besar tetap Fakultas Psikologi UI ini.

Pada anak hiperaktif, jelasnya,"Konsentrasinya kurang terfokus. Jadi,
hanya gerak fisiknya yang aktif tapi tak menunjukkan kelincahan
intelektual. Aktivitasnya pun sering tanpa tujuan." Kendati dia suka
bertanya, tapi tak berkonsentrasi pada jawabannya. Konsentrasinya
mudah buyar jika ada hal lain yang menarik perhatiannya. Lain hal
dengan anak berbakat. "Jika ia lari ke sana-sini, pasti ada
tujuannya. Jika ia tertarik pada sesuatu, ia akan duduk diam dalam
waktu yang lama, asyik sendiri mengerjakan sesuatu," terang Ketua
Yayasan Indonesia untuk Pendidikan dan Pengembangan Anak Berbakat
ini.


Perkembangan Lebih Cepat

Bakat anak, lanjut Utami, berkaitan dengan kerja belahan otak kiri
dan kanan. Belahan otak kanan berhubungan dengan kreativitas,
imajinasi, intuisi. Sedangkan belahan yang kiri untuk kecerdasan.
Nah, anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu
minimal 130. "Namun tak berarti anak dengan IQ rata-rata, yaitu 90-
110, tak akan berbakat," tukas Utami. Anggapan orang bahwa IQ menetap
seumur hidup, menurutnya, sama sekali tak benar. "Ada, kok, anak yang
sebelumnya ber-IQ di bawah rata-rata, tapi dengan stimulasi dan
pendekatan yang baik bisa berubah jadi di atas rata-rata," paparnya..
Tapi IQ bukan satu-satunya yang menentukan seorang anak disebut
berbakat atau tidak. Masih ada faktor lain lagi, yaitu CQ atau
kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata, minimal 250. Selain
itu, tambah Utami, "Ia juga harus memiliki task commitment, yakni
kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi. Jadi, ada
keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu."
Nah, untuk mendeteksi apakah seorang anak berbakat atau tidak,
menurut Utami, bisa dilihat dari perkembangan motoriknya. Anak
berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa.
Entah dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9
bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia
juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna.
Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari
belajar sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan.
Misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, teve, atau buku.

Anak berbakat juga senang bereksplorasi atau menjajaki. "Jadi, kalau
ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa
ingin tahunya," terang Utami. Tentang rasa ingin tahu yang tinggi
ini, terangnya lebih lanjut, memang pada umumnya dimiliki anak kecil.
Hanya, pada anak berbakat, cara mengamatinya lebih kental dibanding
anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat
ialah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik
dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan,
sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain.


Pentingnya Stimulasi Lingkungan

Meski demikian, Utami menyarankan orang tua tak lantas mudah
melakukan generalisasi. "Mentang-mentang perkembangan motorik anaknya
lambat, lantas dikira tak berbakat. Belum tentu, lo," katanya. Sebab,
perkembangan setiap anak berbeda. Ada yang cepat dalam perkembangan
bicara dan bahasanya tapi motoriknya lambat, dan sebagainya. "Bisa
saja terjadi, anak yang dulu perkembangan bicaranya lambat, ternyata
ketika besar menjadi sarjana sastra yang terkenal," ujarnya. Dengan
kata lain, meski perkembangannya lambat, bisa saja nantinya ia
berkembang menjadi anak berbakat dan mengejar ketinggalannya. Hanya
saja, hal itu tak akan terjadi dengan sendirinya. "Semuanya
tergantung dari lingkungan. Bagaimana stimulasi lingkungan akan
sangat mempengaruhi perkembangan bakat anak," tukas Utami. Semakin
dini orang tua memberikan stimulasi, akan semakin baik. Misalnya,
dengan mengajak anak bercakap-cakap sejak ia masih bayi. "Banyak
orang tua menganggap, bayi belum mengerti
 apa-apa sehingga belum perlu diajak bicara."
Padahal, mengajak anak sering-sering berbicara sangat perlu. "Itu
akan merangsang perkembang bahasanya dan berarti membuatnya
terangsang untuk berbicara," tutur Utami. Begitu juga untuk
mengembangkan keinginan anak akan eksplorasi. Sejak usia bayi hal ini
sudah dapat dilakukan. Misalnya, tempat tidur bayi tak dibiarkan
kosong melompong, tapi "diisi" dengan mainan gantung yang dapat
merangsangnya. "Sesekali, dekatkan benda-benda yang terang ke dekat
matanya agar ia bisa melihat jelas atau menyentuhnya. Ini sama dengan
melatih koordinasi antara tangan dan matanya," kata Utami. Selain
itu, tambah pakar kreativitas ini, beri ia kesempatan untuk melatih
berbagai keterampilannya. Saat membacakan cerita, misalnya, "Orangtua
tak melulu membaca tapi juga mengajukan pertanyaan agar si anak
terbiasa berpikir kreatif."


Cukup Alat Sederhana

Sarana dan prasarana pendidikan di rumah yang memungkinkan bakat si
anak tercium, tentu saja perlu. Buku bacaan, alat musik/olahraga,
atau mainan edukatif, sangat penting. Dari benda-benda itulah, akan
terlihat ke mana bakat si anak. Apakah pada musik, olahraga, teknik,
atau intelektual. "Dari situ juga akan terlihat derajat besarnya
bakat tiap anak." Memang, aku Utami, tak semua orang mampu membeli
alat-alat musik yang mahal. Untuk mendeteksi bakat musik, tak perlu
punya piano. "Cukup dengan radio atau teve. Dari cepatnya si kecil
menghapal nyanyian bahkan untuk melodi yang sulit-sulit, itu sudah
menunjukkan bakatnya," terang penulis buku Mengembangkan Bakat dan
Kreativitas Anak Sekolah ini. Selain itu, asalkan orang tua kreatif,
alam pun sudah menyediakan berbagai sarana. Misalnya, membuat mainan
dari biji-bijian atau dedaunan. "Sebaiknya dalam melakukan permainan,
orang tua juga ikut terjun bermain. Sehingga anak dapat menikmati
kegiatan itu dan
 mempunyai kepercayaan diri untuk mengembangkannya," kata Utami.


Perlakuan Khusus

Setelah bakat anak ditemukan, orang tua seyogyanya memberi peluang
pada anak untuk mengembangkan bakatnya. Yakni, dengan menciptakan
lingkungan yang mendorong perkembangan bakat itu. Seperti sudah
disinggung di atas, sekalipun seorang anak berbakat namun
lingkungannya tak mendukung, maka ia tak akan berkembang. "Memang
anak berbakat akan belajar lebih cepat dan melakukan segala sesuatu
lebih baik ketimbang anak biasa, sehingga tampaknya tak perlu
mendapatkan perhatian khusus. Padahal, tidak demikian," kata Utami.
Setiap anak, lanjutnya, entah ia berbakat atau tidak, punya hak untuk
mendapatkan pendidikan yang menarik dan menantang. Tapi karena
kebutuhan, minat, dan perilaku yang "lebih" dibanding anak lainnya,
mau tak mau, anak berbakat harus mendapatkan pengarahan khusus.
Hanya, Utami mengingatkan, jangan sampai perlakuan khusus itu
merugikan. Baik bagi si anak itu sendiri maupun anak lain. Misalnya,
orang tua sering menonjol-nonjolkan anaknya yang
 berbakat dibanding anaknya yang lain.

"Dampak buruknya, ego si anak semakin menghebat dan bisa juga ia
rasakan sebagai beban. Sebab, seperti anak-anak lainnya, ia pun punya
masalah emosional," terangnya. Sebaliknya bagi anak lain, bisa timbul
rasa persaingan antara saudara. "Kok, dia melulu yang dipuji?" Karena
itu, Utami menganjurkan orang tua bersikap tak menunjukkan si
berbakat itu istimewa, tapi lebih pada memberikan rangsangan-
rangsangan istimewa. Sebetulnya, yang paling penting dilakukan orang
tua, kata Utami, "Mencoba menemukan bakat pada setiap anaknya karena
masing-masing anak punya kekuatan tersendiri sehingga anak tak perlu
merasa iri satu sama lain." Nah, tunggu apalagi? Semakin cepat dan
semakin sering kita memberi rangsangan pada si kecil, bakat
terpendamnya pun akan segera kita temukan.
Ciri-ciri Intelektual/Belajar
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas,
penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-
akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan),
menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering
membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang
mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal,
cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam
suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi
tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.


Ciri-ciri Kreativitas

Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik,
memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas
dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam
salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat
mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor
tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak
dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan
masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-
anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru,
kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan
elaborasi).


Ciri-ciri Motivasi

Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama,
tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas
putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi,
ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu
berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan
prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang
dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan
sebagainya). Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat
bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-
pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal
yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat
menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian),
senang mencari dan memecahkan soal-soal..

Sumber : Tabloid Nakita

--- End forwarded message ---





-- 
Miss Dwiriana Setiati MSc., MIET
==========================
Wolverhampton, United Kingdom
+447783520971
  • (no other messages in thread)

Results generated by Tiger Technologies using MHonArc.